Tuesday, October 1, 2019

Pesan Dakwah

“PESAN DAKWAH “

Oleh:
Nailil Muna (B94219088)
Nanda Putri Maulidah (B94219090)
Nova (B94219091)
Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA

2019




KATA PENGANTAR
 Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan nikmat, taufik serta hidayah-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini dapat selesai pada waktunya. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Berkat rahmat, kekuatan, kesehatan jasmani dan rohani yang di berikan Allah SWT, akhirnya kami sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “PESAN DAKWAH”. Sekaligus kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Yang Terhormat Bapak Prof. Dr. MOH. ALI AZIZ, M.Ag selaku dosen pengampu mata kuliah serta Ibu Ati’ Nursyafa’ah,M.Kom.I serta Ibu Baiti Rahmawati,S.Sos, yang telah memberikan motivasi kepada penulis dalam pembuatan makalah ini, semoga dapat bermanfaaat bagi yang membacanya. Surabaya, 




3 September 2019

 Penulis


DAFTAR ISI 

KATA PENGANTAR ....................................................... i 
DAFTAR ISI ..................................................................... ii 
BAB I PEMBAHASAN 
A. Pesan Dakwah ............................................................. 1 
B. Jenis Pesan Dakwah .................................................... 2 
C. Tema - Tema Pesan Dakwah ....................................... 16 
D. Karakteristik Pesan Dakwah ........................................ 17 
BAB II PENUTUP 
A. Kesimpulan ................................................................. 19 
B. Saran ........................................................................... 19 

DAFTAR PUSTAKA ....................................................... 20 
BAB I
PEMBAHASAN

A.    PESAN DAKWAH.
Pesan (message) adalah suatu yang disampaikan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) yang dapat berupa sebuah pemikiran seperti gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya.[1]
Dalam Ilmu Komunikasi  pesan dakwah disebut dengan message, yang berarti simbol-simbol. Sedangkan dalam segi literatur bahasa Arab, pesan dakwah disebut maudlu’ al-da’wah. Istilah tersebut lebih tepat dibandingkan dengan dengan istilah maadah al-da’wah  yang berarti “materi dakwah” . Istilah pesan dakwah dipandang lebih tepat untuk menjelaskan “isi dakwah berupa kata, gambar, lukisan, dan sebagainya yang diharapkan dapat memberikan pemahaman bahkan perubahan sikap dan perilaku mitra dakwah”. Apabila dakwah melalui tulisan, maka yang ditulis itulah pesan dakwah. Apabila dakwah melalui lisan, maka yang diucapkan oleh pembicara tersebut yang dinamakan pesan dakwah. Apabila melalui tindakan, maka perbuatan baik yang dilakukan itulah pesan dakwah. Penyampaian pesan dakwah lebih dititikberatkan pada upaya memberikan gambaran sejelas mungkin tentang bagaimana konsep Islam mengatur kehidupan manusia.[2]
Pada dasarnya, pesan dalam bentuk apapun dapat dikatakan sebagai pesan dakwah selama hal tersebut tidak bertentangan dengan sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Dengan demikian segala sesuatu yang bertentangan dengan dua hal tersebut yaitu Al-Qur’an dan Hadist tidak dapat disebut sebagai pesan dakwah. Apalagi kalau semua orang dapat berbicara tentang moral, bahkan dengan mengutip ayat Al-Qur’an sekalipun apabila hal tersebut hanya dimaksudkan untuk pembenaran atau dasar bagi kepentingan nafsunya semata, maka demikian itu bukan termasuk pesan dakwah. Pesan dakwah pada garis besarnya dibagi menjadi dua, yaitu pesan dakwah utama (Al-Qur’an dan Hadist) dan pesan dakwah tambahan atau penunjang (selain Al-Qur’an dan Hadist). [3]
Dakwah bisa diartikan sebgai aktifitas mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah SWT untuk kemaslahatan, kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.[4]
Tujuan dakwah adalah mencapai keseimbangan hidup Bahagia dunia akhirat, hal ini harus dimodifikasi sesuai dengan keperluan masa kini yang umumnya ingin menjadi masyarakat industri atau modern.[5]
Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan Dakwah Islam ini, baik yang disebutkan secara langsung maupuun yang tidak langsung. Bahkan dapatlah dikatakan bahwa seluruh isi Al-Qur’an mengajak kita untuk berdakwah kepada Allah SWT, dengan mengajak beriman serta kembali kepada-Nya. Dakwah memiliki makna yang tidak terbatas, maka diantara makna dari kata “Dakwah” yang tersebut di dalam Al-Qur’an.[6]
B.     JENIS PESAN DAKWAH
1.      Ayat-Ayat Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu penyempurna. Dengan mempelajari Al-Qur’an, seseorang dapat mengetahui kandungan Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil, Shahifah (lembaran wahyu) Nabi Musa a.s, Shahifah Nabi Nuh a.s, Shahifah Nabi Ibrahim a.s, dan Shahifah yang lainnya.
Al-Qur’an memiliki kandungan lebih sempurna dari wahyu terdahulu. Seperti Al-Fatiha yang memiliki 3 aspek pokok dalam kandungan Al-Qur’an, antara lain :
a). Akidah : Aspek pembelajaran agama islam yang memuat tentang sikap, kesopanan, dan keimanan. Sehingga para ulama’ menyatakan ini sebuah rukun iman dalam bahasa lain sebuah keyakinan dalam ajaran Al-Qur’an dan Sunnah keislaman.
b). Ibadah : Sebuah aspek pendekatan antara seorang hamba dengan sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT dengan kegiatan yang berbau ritual. Sebagai bentuk pengabdian seorang hamba dengan Allah SWT.
c). Muamalah: Sebuah hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat,karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri. Dalam hubungan dengan manusia lainnya,menurut Letjen H dakwah merupakan usaha untukmerealisasikan ajaran islam pada kehidupan kehari –hari yang man membutuhkan bersosialisasi . manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban. Lebih jauh lagi interaksi antara manusia tersebut akan membutuhkan kesepakatan demi kemaslahatan bersama. Dalam arti luas muamalah merupakan aturan Allah untuk manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya dalam berinteraksi. Sedangkan dalam arti khusus muamalah adalah aturan dari Allah dengan manusia lain dalam hal mengambangan harta benda.
Adapun kedudukan dan fungsi Al-Qur’an diantaranya :
a)      Petunjuk bagi seluruh umat manusia. Petunjuk yang dimaksud ialah petunjuk agama, atau biasa disebut dengan syari’at. Di dalamnya berisi aturan yang boleh dilalui dan yang tidak boleh dilalui oleh umat manusia, dengan tujuan agar manusia dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah (2):2, 185 dan Fussilat (41):44
Surat Al-Baqarah Ayat 2:
. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
b)      Sumber pokok ajaran Islam. Sebagai sumber pokok ajaran Islam, Al-Qur’an tidak hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga berisi tentang ajaran sosial-ekonomi, akhlak/moral, pendidikan, kebudayaan, politik, dan sebagainya. Dengan demikian, Al-Qur’an dapat menjadi Way of Life  bagi seluruh umat manusia.[7]
2.      Hadis Nabi SAW
Hadis secara bahasa memiliki arti sesuatu yang Baru. Sedangkan menurut istilah adalah Apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat beliau.[8] Setelah Al-Qur’an, umat muslim mengenal hadis sebagai sumber hukum bagi mereka. Peranan hadis menjadi amat segnifikasi karena pada kenyataannya, hadis merupakan penjelas dari Al-Qur’an dalam bentuk perilaku Nabi, sehingga Al-Qur’an tidak dapat terlepas dari hadis. Hanya saja Nabi pernah bersabda supaya para sahabat tidak mencatat dari beliau (Hadis) selain Al-Qur’an atau wahyu, supaya tidak terjadi kekacauan untuk memisahkan mana wahyu dan mana hadis.
Hal yang paling terpenting bagi pedakwah adalah harus bisa mengetahui dan membedakan hadis palsu dan hadis shahih.Hadtis shahih adalah hadits yang bersambung sanandnyadan hadtis shahih dibedakan menjadi dua.Pertama hadtis sahih li dhaztih ,kedua ,hadtis shahih li ghoirihi.[9] Karena hadis-hadis yang disampaikan seorang pedakwah haruslah hadis yang shahih dan terbukti kebenarannya. Karena, sangatlah berbahaya bagi para pedakwah jika berdakwah menggunakan hadis yang palsu atau belum jelas kebenarannya. Hal tersebut berhubungan dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Adapun tanda-tanda hadis palsu ialah :
a). Susunan redaksinya kacau
b). Matan nya bertentangan dengan ketetapan agama
c). Matan nya nyata bertentangan dengan Al-Qur’an
d). Lafadz hadisnya lemah dan tidak baik
Untuk melihat kebenaran hadis tersebut para pedakwah dapat mengutip hasil penelitian para ulama; hadis atau penelitian lain. Tidak harus dengan penelitiannya sendiri. Seorang pedakwah hanya memerlukan cara untuk mendapatkan hadis yang shahih serta memahami isi kandungan hadis tersebut. Jumlah hadis Nabi begitu banyak, terlalu berat apabila serang pedakwah menghafalkan semuanya. Maka daripada itu seorang pedakwah cukup membuat klasifikasi Hadis berdasarkan dengan kualitas dan tema yang di sampaikan.
            Terdapat beberapa etika yang harus di perhatikan seorang pedakwah dalam mengutip sebuah Hadis:
a). Penulisan atau pengucapan Hadis harus benar
b). Penulisan atau pengucapan matan Hadis sebaiknya disertai terjemahannya, agar pengertiannya dapat dipahami oleh mitra dakwah.
c). Nama Nabi SAW atau Rasulullah SAW serta nama perawi sahabat dan perawi penulis kitab hadis harus disebutkan.
d). Pedakwah harus memprioritaskan Hadis yang lebih tinggi kualitasnya.
e). Pengungkapan Hadis harus sesuai dengan topik yang dibicarakan.

3.      Pendapat Para Sahabat Nabi SAW
    Yang harus di fahami bahwa sahabat nabi SAW adalah orang yang hidup bersama nabi SAW di masa nabi SAW.Sehingga pendapat sahabat memiliki kuallitas sangat tinggi , karena kedekatan mereka dengan Nabi SAW dalam proses pembelajarannya dan penyampaian materi keislaman secara langsung denga nabi SAW. Di antara para sahabat Nabi SAW, ada yang termasuk sahabat senior (kibar al-shahabah) dan sahabat yunior (shigar al-shahabah) .
Seluruh isi dari hadtis di kutip  dari sahabat senior karena diukur dari waktu masuk islam, perjuangan, dan kedekatannya dengan Nabi SAW.  Hingga mengutip pendapat para sahabat memiliki etika yang harus pendakwah ketahuin;
a).Tidak bersimpang jalan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.
b). Menyantumkan nama sahabat yang dikutip.
c). Menyebut sumber rujukan.
d). Membaca doa dengan kata radliyallahu ‘anha atau menulis dengan singkatan r.a dibelakang nama sahabat
.
4.      Pendapat Para Ulama’
    Ulama’ adalah orang yang ahli dalam bidanya baik dalam bidang agama maupun bidang umum. yang diutamakan disini bukanlah ulama’ biasa, melainkan ulama’ yang mendalami ilmu agama .Menjadi seorang pendakwah atau dai’harus menemukan metode dan materi khusus dakwah yang di tawarkan agar menemukan sasaran dakwah (maddu’).[10] dengan ini kita bisa menghindari kesalahan memilih ulama’ yang bersimpang jalan dengan ajaran islam. Hal tersebut dikarenakan banyaknya ajaran-ajaran ulama’ islam yang salah (ulama’ al-su’) yakni mereka yang tidak berpedoman kepada Al-Qur’an melainkan mereka yang membuat aturannya sendiri. Ada 2 macam pendapat ulama’ yaitu pendapat yang telah disepakati ( Al-Mutafaqqilah) dan pendapat yang masih diperselisihkan (Al-Mukhtalaffih). Sehingga pendapat yang pertamalah yang kebih kuat argumentasinya atau kualitas nialinya daripada pendapat yang kedua. Apabila terdapat pendapat ulama’ yang sekiranya berseberangan jangan langsung divonis bahwa pendapat kedua  salah sebelujm mengetahui sumber kebenarannya. Terhadap pendapat ulama yang tampaknya berseberangan, kita dapat mencoba melakukan kompromi atau memilih yang lebih kuat argumentasinya atau memilih yang paling baik dalam kemanfaatanya .Sehinga ulama’ besar ja’far atau yang akrab di pangil sunan kudus memiliki caraersendiri dalam berdakwah .Pola dakwah yang di kembangkan banyak bercorak pada bidang kesenian .
Adapun etika mengutip pendapat ulama adalah sebagai berikut :
a). Tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits.
b). Menyebut nama ulama yang dikutip.
c).Mengetahui argumentasinya, agar terhindar dari kepengikutan yang tidak cerdas.
d). Memilih pendapat ulama yang paling kuat dasarnya dan paling besar manfaatnya untuk masyarakat.
e). Menghormati segala pendapat ulama’-ulama’ lain, karena setiap ulama’ dalam kajiannya memiliki prinsip dan pegangan yang berbeda-berbeda namun tetap satu tujuan.
f). Dalam mengutip pendapat ulama’ kita harus mengetahui biografi ulama’ tersebut. Hal tersebut meliputi jati diri ulama’, pola pikir, sisi positif, dan sisi negatif dari  ulama’ tersebut.[11]
5.      Hasil Penelitian Ilmiah
Tidak semua ayat al-Qur’an yang bisa kita pahami oleh orang awam yang lebih mendalam dan luas setelah dibantu hasil sebuah penelitian ilmiah. Inilah hasil penelitian yang menjadi salah satu sumber pesan dakwah. Masyarakat modern amat menghargai hasil penelitian, bahkan orang sekuler lebih menyakinin dari pada isi kitab suci. Sifat dan hasil penelitian ilmiah adalah relatif dan reflektif . Relatif ,sebab nilai kebenarannya dapat berubah dan reflektif karena ia mencerminkan realitasnya.
Hasil penelitian bisa berubah disebabkan oleh  penelitian berikutnya atau penelitian dalam medan yang berbeda. Oleh sebab itu, pengutipan hasil penelitian ilmiah untuk pesan dakwah harus berpegang pada etika berikut :
a). Menyebut nama penelitinya, atau lembaga bila melibatkan suatu lembaga.
b). Menyebutkan objek penelitian yang sesuai dengan topik dakwah.
c). Disajikan dengan kalimat yang singkat dan jelas.
d). Disampaikan kepada mitra dakwah
e). Disampaikan untuk menguatkan pesan utama dakwah.
6.      Kisah dan Pengalaman Teladan
Ketika mitra dakwah merasa kesulitan dalam mencerna konsep-konsep yang kita sampaikan, kita mencari upaya-upaya yang memudahkannya. Ketika mereka kurang antusias dan kurang yakin terhadap pesan dakwah, kita mencari keterangan yang menguatkan argumentasinya atau bukti-bukti nyata dalam kehidupan. Pendakwah menginginkan menyatukan umat .Seperti kisah  Al hasan saat berkhutbah wahai manusia aku tidak mampu memikul kedengkian atas seoranh muslim .Yang kalian benci adalah lebih baik daripada perselisihan yang kalian sukai .[12] Salah satu diantaranya adalah menceritakan pengalaman sesorang atau pribadi yang terkait dengan topik. Ketika membicarakan pengalaman apalagi yang menyangkut keteladanan, pendakwah harus berhati-hati.
Kisah- kisah teladan dapat kita ambil dari cerita peristiwa terdahulu, seperti cerita tentang Khadijah Binti Khuwailid yang merupakan istri Nabi Muhammad SAW yang sangat setia kepada Beliau. Khadijah merupakan istri teladan, penolong utama Rasulullah SAW. Dia membela Rasulullah SAW dengan jiwa dan hartanya. Dia pula yang pertama kali beriman dan membenarkan dakwah Rasulullah SAW, dan ikut merasakan berat dan pedihnya tantangan dakwah yang dialami oleh Rasulullah SAW.[13]

7.      Berita dan Peristiwa
Pesan dakwah bisa berupa berita tentang sesuatu kejadian. Peristiwanya lebih ditonjolkan daripada pelakunya seperti uraian diatas. Berita (kalam khabar) menurut istilah ‘ilmu al-balaghah dapat benar atau dusta. Berita dikata benar jika sesuai dengan fakta.jika tidak sesuai, disebut berita bohong. Hanya berita yang diyakini kebenarannya yang patut dijadikan pesan dakwah. Dalam al-qur’an, berita sering di istilahkan dengan kata al-naba’,yakni berita yang penting,terjadinya sudah pasti, dan membawa manfaat yang besar.
Dalam menjadikan berita sebagai menunjang pesan dakwah, terdapat beberapa etika yang harus diperhatikan :
a). Melakuakan berkali-kali sampai diyakini kebenaran berita tersebut. dalam al-qur’an kita diperintahkan untuk melakukan pengecekan informasi ( tabayun ) atau kesesuainya dengan fakta ( QS. Al-Hujarat ayat 6 ).
b). Dampak dari suatu berita juga harus dikaji. Jika ada kemungkinan membahayakan bagi mitra dakwah, berita itu tidak boleh diceritakan, meskipun benar-benar terjadi.
c). Sifat berita adalah datar, hanya memberitahukan (to inform).
d). Berita yang di sajikan harus mengandung hikmah.

8.      Karya Sastra
        Pesan dakwah terkadang perlu dilengkapi dengan karya sastra yang bermutu sehingga lebih indah dan menarik, Bisa bemberi daya  memikat pada orang yang baru mengenal dakwah . karya sastra ini dapat berupa syair, puisi, pantun, nasyid. Tidak sedikit para pendakwah yang menyisipkan karya sastra daam dakwahnya. Hampir setiap karya sastra memuat pesan-pesan bijak.berdakwah dengan paduan seni nusantara.
Seperti hadist yang berbunyi :
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ يُحَدِّثُ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحْزَابِ وَخَنْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ يَنْقُلُ مِنْ تُرَابِ الْخَنْدَقِ حَتَّى وَارَى عَنِّي الْغُبَارُ جِلْدَةَ بَطْنِهِ وَكَانَ كَثِيرَ الشَّعَرِ فَسَمِعْتُهُ يَرْتَجِزُ بِكَلِمَاتِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَهُوَ يَنْقُلُ مِنْ التُّرَابِ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا قَالَ ثُمَّ يَمُدُّ صَوْتَهُ بِآخِرِهَا
 Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Utsman telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Maslamah dia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Yusuf dia berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Abu Ishaq dia berkata, aku mendengar Al Barra` bin Azib bercerita, dia berkata, “Pada waktu perang Ahzab atau Khandaq, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tanah parit, sehingga debu-debu itu menutupi kulit beliau dari (pandangan) ku, saat itu beliau bersenandung dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu Rawahah, sambil mengangkat tanah beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.’ Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suara diakhir baitnya.

9.      Karya Seni
Sebuah karya seni memiliki nilai keindahan yang tinggi. Jika karya sastra menggunakan komunikasi verbal (diucapkan) maka karya seni lebih banyak menutarakan melalui komunikasi nonverbal (diperlihatkan).
Husein Nasr, dalam soal hubungan anatra seni dan agama, membagi seni dalam 3 bagian. Pertama, Seni suci, yakni seni yang berhubungan langsung dengan praktik-praktik utama agama dan kehidupan spiritual. Kedua, seni tradisional, yakni seni yang menggambarkan prinsip-prinsip agama dan spiritual tetapi dengan cara tidak langsung. Ketiga, seni religius, seni yang subjek atau fungsinya bertema keagamaan, namun bentuk dan cara pelaksanaannya tidak bersifat tradisional.[14]
 Pesan dakwah jenis ini lebih mengacu kepada lambang yang terbuka untuk dapat ditafsirkan oleh siapapun, maka pesan dakwah ini bersifat Subjektif. Tidak semua orang atau bahkan jarang sekali orang yang mencintai atau dapat mengapresiasi sebuah karya seni. Bagi seorang pecinta karya seni, pesan dakwah jenis ini lebih dapat membuatnya berfikir tentang Allah SWT dan makhluk-Nya, lebih dari hanya ketika ia mendengarkan ceramah agama. Seorang tersebut dapat dengan mudah meresapi hingga menteskan air mata ketika melihat sesuatu yang menurutnya merupakan kebesaran Allah SWT, misalnya seperti sebuah lukisan pemandangan laut yang terhampar luas dengan gelombang yang sangat dahsyat dan tampak dari kejauhan terlihat ada seorang yang bersujud diatas perahu kecil yang terombang-ambing dahsyatnya ombak lautan.


C.     Tema-Tema Dakwah
Secara etimologi pengertian dakwah merupakan suatu proses penyampaian (tabligh). Pesan-pesan tertentu berupa ajakan atau seruan dengan tujuan orang lain memenuhi dan mengikuti ajakan tersebut. Tema ini paling tidak akan tampak pada kemungkinan bahwa mitra dakwah sudah mulai berusaha menimbang-nimbang pesan dakwah tersebut apakah mereka akan menerimanya atau sebaliknya.[15]
Bagi pendakwah harus tau tentang tema-tema pendakwah sebelum berdakwah .Antara lain tema pesan  dakwah untuk memberikan ketenangan dalam beragama.Di tengah lautan   masyarakat plura dan tema peningkatan keagamaan di sumber daya manusia .Tidak hanya macam -macam tema dakwah . di situ ada penjelasan tentang isi-isi tema dakwah .Antara lain tema yaitu ketenangan dalam beragama ,bermayarakat hingga dapat di pahami dari pemahaman dari ajaran agama islamnsecar integral atau menyeluruh .Sehinga dalam berdakwah butuh tema supaya tidak terjebak pada distorsi ajaran agama yang bisa memberikan dampak buruk dan memberikan ajaran agama yang kurang berkesan. Saat kita membahas tentang jihad jangan dinyatakan jihad adalah peperangan karena bisa berdampak buruk terhadap orang awam dan memberikan kesan yang beda dengan ajaran islam .Dalam penolakan pesan dakwah hal ini memiliki banyak factor antara lain bias jadi pesan dakwah tersebut tidak  relevan atau bertentangan dengan apa yang di fahami oleh pendengar .atau di sampaikan oleh pendakwah secara prontal hingga cenderung propokatif .mak dari itu Seorang pendakwah harus pandai-pandai menghadapi masalah dari masyarakat .Pendakwah juga harus mampu memberikan pemahaman  yang dapat dengan mudah di terima yang pada dasarnya pendakwah harus faham denggan isi dari kandungan ayat Al -Quran secara ilmiyah dan Hadits .Kalau hanya hafalan Al -Quran dan Hadits maka pendakwah cenderung memberikan penafsiran yang instan .Bahkan dakwahnya terasa melangit dan kurang landing ke bumi.

D.    Karakteristik Pesan Dakwah

      Dalam pesan dakwah sudah di jelaskan bahwa terdiri dari ajakan Rasulullah  kepada umatnya dengan dasar Al-Quran dan Hadtis .Sehingga membutuhkan bekal ilmu yg lebih banyak seperti ilmu Tasawuf ,Ushul fiqih ,Tafsir hadtis  .Metode pemahaman dari ilmu itu penting untuk menjelskan pemahaman yang lebih rinci dari mulai dasar sampai tingkat tinggi .hingga berdakwah memiliki ciri khas yang tersendiri .Memiliki kesan untuk menarik perhatian para pendenggar dakwah .  Al-Quran dan Hadtis merupakan teks tulis .Memiliki sifat statis .Oleh karna itu ,pemahaman  teks dapat berubah sesuai denggan konteksnya. Kontek terbatas pada hukum,ruang dan waktu.  Konteks masa silam dan masa akan mendatang.[16]



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
BAB II
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
     Dakwah mempunyai unsur-unsur salah satunya yaitu pesan .Berdakwah ada banyak hal yang perlu di perhatikan seperti memahami semua ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu secara ilmiah . Sehinga saat memberi materi dakwah  sangat mudah di terima secara logika .Dan orang awam mampu melakukan pekerjaan yang di sampaikan dalam majlis pendakwahan .Mampu memahami teori-teori  pendakwahan .Memberika tema yang bisa memberikan kesan khas dalam berdakwah .Supaya saat berdakwah mampu bersatu dengan jiwa –jiwa pendakwah dan penyampaian dakwah .
B.     SARAN
  Penulis berharap semoga makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca . Penulis juga berharap kritik dan saran dari pembaca,khususnya dosen pengampumata kuliah untuk kesempurnaan tugaspenulis selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Agus. Sosiologi Dakwah. Yogyakarta : CV Budi Utama, 2016.
Ali Aziz, Moh. Ilmu Dakwah. Jakarta : Kencana, 2017.
Ash-Shalabi, Ali Muhammad. Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Jakarta : Darul Haq, 2016.
Bisri, Hasan. Filsafat Dakwah. Surabaya : Dakwah Digital Press, 2016.
Gonibala, Rukmina. Strategi Dakwah. Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018.
Haldir, Abdullah. Kisah Wanita-Wanita Teladan. Saudi Arabia: Kantor Dakwah dan Bimbingan Bagi Pendatang. 2005.
Idri. Studi Hadits. Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2016.
Ikhsan, Arief M. Beginilah Jalan Dakwah. Jakarta : PT Elex Media Komputindo, 2017.
Ilahi, Wahyu. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta : Kencana, 2007.
Luth, Thahir. M. Natsir Dakwah dan Pemikirannya. Jakarta : Gema Insani, 1999.
Mubarok, M. Mufti. 1 Jam Mahir Hadits. Surabaya : PT Java Pustaka Media Utama. 2010.
Musyafa’ah, Sauqiyah, dkk. Studi Al-Qur’an. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. 2012.
Soleh, A. Khudori. Filsafat Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2016.
Sulthon, Muhammad. Desain Ilmu Dakwah. Semarang: Pustaka Pelajar. 2003.
Tasmara, Toto. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1997.
Wahid, Abdul.  Gagasan Dakwah . Jakarta Timur : Kencana, 2019.



[1] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 19
[2] Thohir Luth, M. Natsir Dakwah dan Pemikirannya, Cet 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), h. 71
[3] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 ( Jakarta: Kencana, 2017), hh. 272-273
[4] Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah (Semarang: Pustaka Pelajar, 2003), h. 19
[5] Hasan Bisri, Filsafat Dakwah, Cet 5 ( Surabaya: Dakwah Digital Press, 2016), h. 52
[6] Arief M. Ikhsan, Beginilah Jalan Dakwah ( Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2018), h. 82
[7] Sauqiyah Musyafa’ah, dkk., Studi Al-Qur’an, Cet 2 (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2012), h. 12
[8] M. Mufti Mubarok, 1 Jam Mahir Hadits, Cet 1 (Surabaya : PT Java Pustaka Media Utama, 2010), h. 1
[9] Idri, dkk. , Studi Hadits, Cet 5 (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2016), h. 175
[10] Rukmina Gonibala, Strategi Dakwah, Cet 1 ( Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018), h.19
[11] Wahyu Ilahi, dkk., Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 176 -177

[12] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Mu’awiyah Bin Abu Sufyan, Cet 3 (Jakarta: Darul Haq, 2016 ), hh. 272-273
[13] Abdullah Haldir, Kisah Wanita-Wanita Teladan, Cet 1 (Saudi Arabia : Kantor Dakwah Dan Bimbingan Bagi Pendatang, 2005), h. 6
[14] A. Khudori Soleh, Filsafat Islam, Cet 1 (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 292
[15] Abdul Wahid, Gagasan Dakwah, Cet 1 (Jakarta Timur: Kencana,  2019), hh. 94
[16] .Agus Ahmad, Sosiologi Dakwah, Cet 1 (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2016), h. 8
\