“PESAN DAKWAH “
Oleh:
Nailil Muna (B94219088)
Nanda Putri Maulidah (B94219090)
Nova (B94219091)
Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah
melimpahkan nikmat, taufik serta hidayah-Nya berupa
kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini dapat
selesai pada waktunya. Sholawat serta salam semoga
selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang
diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.
Berkat rahmat, kekuatan, kesehatan jasmani dan
rohani yang di berikan Allah SWT, akhirnya kami
sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul “PESAN DAKWAH”. Sekaligus kami juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada Yang
Terhormat Bapak Prof. Dr. MOH. ALI AZIZ, M.Ag
selaku dosen pengampu mata kuliah serta Ibu Ati’
Nursyafa’ah,M.Kom.I serta Ibu Baiti Rahmawati,S.Sos,
yang telah memberikan motivasi kepada penulis dalam
pembuatan makalah ini, semoga dapat bermanfaaat bagi
yang membacanya.
Surabaya,
3 September 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................... ii
BAB I PEMBAHASAN
A. Pesan Dakwah ............................................................. 1
B. Jenis Pesan Dakwah .................................................... 2
C. Tema - Tema Pesan Dakwah ....................................... 16
D. Karakteristik Pesan Dakwah ........................................ 17
BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................. 19
B. Saran ........................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ....................................................... 20
A. PESAN DAKWAH.
Pesan (message) adalah suatu yang disampaikan
seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) yang dapat berupa sebuah
pemikiran seperti gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari
benaknya.
Dalam
Ilmu Komunikasi pesan dakwah disebut dengan message,
yang berarti simbol-simbol. Sedangkan dalam segi
literatur bahasa Arab, pesan dakwah disebut maudlu’
al-da’wah. Istilah tersebut lebih tepat dibandingkan dengan dengan istilah maadah al-da’wah yang berarti “materi dakwah” . Istilah pesan
dakwah dipandang lebih tepat untuk menjelaskan “isi dakwah berupa kata, gambar,
lukisan, dan sebagainya yang diharapkan dapat memberikan pemahaman bahkan
perubahan sikap dan perilaku mitra dakwah”. Apabila dakwah melalui tulisan,
maka yang ditulis itulah pesan dakwah. Apabila dakwah melalui lisan, maka yang
diucapkan oleh pembicara tersebut yang dinamakan pesan dakwah. Apabila melalui
tindakan, maka perbuatan baik yang dilakukan itulah pesan dakwah. Penyampaian pesan dakwah lebih dititikberatkan pada
upaya memberikan gambaran sejelas mungkin tentang bagaimana konsep Islam
mengatur kehidupan manusia.
Pada
dasarnya, pesan dalam bentuk apapun dapat dikatakan sebagai pesan dakwah selama
hal tersebut tidak bertentangan dengan sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan
Hadist. Dengan demikian segala sesuatu yang bertentangan dengan dua hal
tersebut yaitu Al-Qur’an dan Hadist tidak dapat disebut sebagai pesan dakwah.
Apalagi kalau semua orang dapat berbicara tentang moral, bahkan dengan mengutip
ayat Al-Qur’an sekalipun apabila hal tersebut hanya dimaksudkan untuk
pembenaran atau dasar bagi kepentingan nafsunya semata, maka demikian itu bukan
termasuk pesan dakwah. Pesan dakwah pada garis besarnya dibagi menjadi dua,
yaitu pesan dakwah utama (Al-Qur’an dan Hadist) dan pesan dakwah tambahan atau
penunjang (selain Al-Qur’an dan Hadist).
Dakwah bisa diartikan sebgai aktifitas mengajak
manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan
perintah Allah SWT untuk kemaslahatan, kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
Tujuan dakwah adalah mencapai keseimbangan hidup
Bahagia dunia akhirat, hal ini harus dimodifikasi sesuai dengan keperluan masa
kini yang umumnya ingin menjadi masyarakat industri atau modern.
Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat
Al-Qur’an yang berkenaan dengan Dakwah Islam ini, baik yang disebutkan secara
langsung maupuun yang tidak langsung. Bahkan dapatlah dikatakan bahwa seluruh
isi Al-Qur’an mengajak kita untuk berdakwah kepada Allah SWT, dengan mengajak
beriman serta kembali kepada-Nya. Dakwah memiliki makna yang tidak terbatas,
maka diantara makna dari kata “Dakwah” yang tersebut di dalam Al-Qur’an.
B.
JENIS PESAN DAKWAH
1. Ayat-Ayat Al-Qur’an
Al-Qur’an
adalah wahyu penyempurna. Dengan mempelajari Al-Qur’an, seseorang dapat
mengetahui kandungan Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil, Shahifah (lembaran wahyu) Nabi Musa a.s,
Shahifah Nabi Nuh a.s, Shahifah Nabi Ibrahim a.s, dan Shahifah yang lainnya.
Al-Qur’an
memiliki kandungan lebih sempurna dari wahyu terdahulu. Seperti Al-Fatiha yang
memiliki 3 aspek pokok dalam kandungan Al-Qur’an, antara lain :
a).
Akidah : Aspek
pembelajaran agama islam yang memuat tentang sikap, kesopanan, dan keimanan. Sehingga
para ulama’ menyatakan ini sebuah rukun iman dalam bahasa lain sebuah keyakinan
dalam ajaran Al-Qur’an dan Sunnah keislaman.
b).
Ibadah : Sebuah aspek pendekatan antara seorang hamba dengan sang Maha Pencipta
yaitu Allah SWT dengan kegiatan yang berbau ritual. Sebagai bentuk pengabdian
seorang hamba dengan Allah SWT.
c).
Muamalah: Sebuah
hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat,karena manusia merupakan
makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri. Dalam hubungan dengan manusia
lainnya,menurut Letjen H dakwah merupakan usaha
untukmerealisasikan ajaran islam pada kehidupan kehari –hari yang man
membutuhkan bersosialisasi . manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan
kewajiban. Lebih jauh lagi interaksi antara manusia tersebut akan membutuhkan
kesepakatan demi kemaslahatan bersama. Dalam arti luas muamalah
merupakan aturan Allah untuk manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya dalam
berinteraksi. Sedangkan dalam arti khusus muamalah adalah aturan dari Allah dengan manusia lain
dalam hal mengambangan harta benda.
Adapun kedudukan dan
fungsi Al-Qur’an diantaranya :
a)
Petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Petunjuk yang dimaksud ialah petunjuk agama, atau biasa disebut dengan
syari’at. Di dalamnya berisi aturan yang boleh dilalui dan yang tidak boleh
dilalui oleh umat manusia, dengan tujuan agar manusia dapat mencapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia
sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah (2):2, 185 dan Fussilat (41):44
Surat Al-Baqarah Ayat 2:
. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
b)
Sumber pokok ajaran Islam. Sebagai sumber pokok ajaran
Islam, Al-Qur’an tidak hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan hubungan
manusia dengan Allah, tetapi juga berisi tentang ajaran sosial-ekonomi,
akhlak/moral, pendidikan, kebudayaan, politik, dan sebagainya. Dengan demikian,
Al-Qur’an dapat menjadi Way of Life bagi seluruh umat manusia.
2. Hadis Nabi SAW
Hadis secara bahasa memiliki arti sesuatu yang Baru.
Sedangkan menurut istilah adalah Apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW baik
berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat beliau.
Setelah Al-Qur’an, umat muslim mengenal hadis sebagai sumber
hukum bagi mereka. Peranan hadis menjadi amat segnifikasi karena pada
kenyataannya, hadis merupakan penjelas dari Al-Qur’an dalam bentuk perilaku
Nabi, sehingga Al-Qur’an tidak dapat terlepas dari hadis. Hanya saja Nabi
pernah bersabda supaya para sahabat tidak mencatat dari beliau (Hadis) selain
Al-Qur’an atau wahyu, supaya tidak terjadi kekacauan untuk
memisahkan mana wahyu dan mana hadis.
Hal
yang paling terpenting bagi pedakwah adalah harus bisa mengetahui dan
membedakan hadis palsu dan hadis shahih.Hadtis shahih adalah hadits yang bersambung sanandnyadan
hadtis shahih dibedakan menjadi dua.Pertama hadtis sahih li dhaztih ,kedua
,hadtis shahih li ghoirihi.
Karena hadis-hadis yang disampaikan seorang pedakwah haruslah hadis yang shahih
dan terbukti kebenarannya. Karena, sangatlah berbahaya bagi para pedakwah jika
berdakwah menggunakan hadis yang palsu atau belum jelas kebenarannya. Hal
tersebut berhubungan dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Adapun
tanda-tanda hadis palsu ialah :
a).
Susunan redaksinya kacau
b).
Matan nya bertentangan dengan ketetapan agama
c).
Matan nya nyata bertentangan dengan Al-Qur’an
d).
Lafadz hadisnya lemah dan tidak baik
Untuk
melihat kebenaran hadis tersebut para
pedakwah
dapat mengutip hasil penelitian para ulama; hadis atau penelitian lain. Tidak
harus dengan penelitiannya sendiri. Seorang pedakwah hanya memerlukan cara
untuk mendapatkan hadis yang shahih serta memahami isi kandungan hadis
tersebut. Jumlah hadis Nabi begitu banyak, terlalu berat apabila serang
pedakwah menghafalkan semuanya. Maka daripada itu seorang pedakwah cukup
membuat klasifikasi Hadis berdasarkan dengan kualitas dan tema yang di
sampaikan.
Terdapat beberapa etika yang harus
di perhatikan seorang pedakwah dalam mengutip sebuah Hadis:
a). Penulisan atau
pengucapan Hadis harus benar
b). Penulisan atau
pengucapan matan Hadis sebaiknya disertai terjemahannya, agar pengertiannya
dapat dipahami oleh mitra dakwah.
c). Nama Nabi SAW atau
Rasulullah SAW serta nama perawi sahabat dan perawi penulis kitab hadis harus
disebutkan.
d). Pedakwah harus
memprioritaskan Hadis yang lebih tinggi kualitasnya.
e). Pengungkapan Hadis
harus sesuai dengan topik yang dibicarakan.
3. Pendapat Para Sahabat Nabi SAW
Yang harus
di fahami bahwa sahabat nabi SAW adalah orang yang hidup bersama nabi SAW di
masa nabi SAW.Sehingga pendapat sahabat memiliki kuallitas sangat tinggi ,
karena kedekatan mereka dengan Nabi SAW dalam proses pembelajarannya dan penyampaian materi keislaman secara langsung denga
nabi SAW. Di antara para sahabat Nabi SAW, ada
yang termasuk sahabat senior (kibar
al-shahabah) dan sahabat yunior (shigar
al-shahabah) .
Seluruh isi dari hadtis di
kutip dari sahabat
senior karena diukur dari waktu masuk islam, perjuangan, dan kedekatannya
dengan Nabi SAW. Hingga mengutip pendapat para sahabat memiliki etika
yang harus pendakwah ketahuin;
a).Tidak bersimpang jalan dengan
Al-Qur’an dan Al-Hadits.
b).
Menyantumkan
nama
sahabat yang dikutip.
c).
Menyebut sumber rujukan.
d).
Membaca doa dengan kata radliyallahu ‘anha atau menulis dengan singkatan r.a dibelakang
nama sahabat
.
4. Pendapat Para Ulama’
Ulama’
adalah orang yang ahli dalam bidanya baik dalam bidang agama maupun bidang
umum. yang diutamakan disini bukanlah ulama’ biasa,
melainkan ulama’ yang mendalami ilmu agama .Menjadi seorang pendakwah atau dai’harus menemukan
metode dan materi khusus dakwah yang di tawarkan agar menemukan sasaran dakwah
(maddu’).
dengan ini kita bisa menghindari
kesalahan memilih ulama’ yang bersimpang jalan dengan
ajaran islam. Hal tersebut dikarenakan banyaknya ajaran-ajaran ulama’ islam
yang salah (ulama’ al-su’) yakni mereka yang tidak berpedoman kepada Al-Qur’an
melainkan mereka yang membuat aturannya sendiri. Ada 2 macam pendapat ulama’
yaitu pendapat yang telah disepakati ( Al-Mutafaqqilah) dan pendapat yang masih
diperselisihkan (Al-Mukhtalaffih). Sehingga pendapat yang pertamalah yang kebih
kuat argumentasinya atau kualitas nialinya daripada pendapat yang kedua.
Apabila terdapat pendapat ulama’ yang sekiranya berseberangan jangan langsung
divonis bahwa pendapat kedua salah sebelujm mengetahui sumber kebenarannya.
Terhadap pendapat ulama yang tampaknya berseberangan, kita dapat mencoba melakukan
kompromi atau memilih yang lebih kuat argumentasinya atau memilih yang paling
baik dalam kemanfaatanya .Sehinga
ulama’ besar ja’far atau yang akrab di pangil sunan kudus memiliki
caraersendiri dalam berdakwah .Pola dakwah yang di kembangkan banyak bercorak
pada bidang kesenian .
Adapun
etika mengutip pendapat ulama adalah sebagai berikut :
a).
Tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits.
b).
Menyebut nama ulama yang dikutip.
c).Mengetahui
argumentasinya, agar terhindar dari kepengikutan yang tidak cerdas.
d).
Memilih pendapat ulama yang paling kuat dasarnya dan paling besar manfaatnya untuk
masyarakat.
e).
Menghormati segala pendapat ulama’-ulama’ lain, karena setiap ulama’ dalam
kajiannya memiliki prinsip dan pegangan yang berbeda-berbeda namun tetap satu
tujuan.
f).
Dalam mengutip pendapat ulama’ kita harus mengetahui biografi ulama’ tersebut.
Hal tersebut meliputi jati diri ulama’, pola pikir, sisi positif, dan sisi
negatif dari ulama’ tersebut.
5. Hasil Penelitian Ilmiah
Tidak semua ayat al-Qur’an yang bisa
kita pahami oleh orang awam
yang lebih mendalam dan luas setelah dibantu hasil sebuah
penelitian ilmiah. Inilah hasil penelitian yang menjadi salah satu sumber pesan
dakwah. Masyarakat modern amat menghargai hasil penelitian, bahkan orang sekuler
lebih menyakinin
dari pada isi
kitab suci. Sifat dan hasil penelitian ilmiah adalah relatif dan reflektif . Relatif ,sebab nilai kebenarannya dapat berubah dan
reflektif karena ia mencerminkan realitasnya.
Hasil
penelitian bisa berubah disebabkan
oleh penelitian
berikutnya atau penelitian dalam medan yang berbeda. Oleh sebab itu, pengutipan
hasil penelitian ilmiah untuk pesan dakwah harus berpegang pada etika berikut :
a).
Menyebut nama penelitinya, atau lembaga bila melibatkan suatu lembaga.
b).
Menyebutkan objek penelitian yang sesuai dengan topik dakwah.
c).
Disajikan dengan kalimat yang singkat dan jelas.
d).
Disampaikan kepada mitra dakwah
e).
Disampaikan untuk menguatkan pesan utama dakwah.
6. Kisah dan Pengalaman Teladan
Ketika
mitra dakwah merasa kesulitan dalam mencerna konsep-konsep yang kita sampaikan,
kita mencari upaya-upaya yang memudahkannya. Ketika mereka kurang antusias dan
kurang yakin terhadap pesan dakwah, kita mencari keterangan yang menguatkan
argumentasinya atau bukti-bukti nyata dalam kehidupan. Pendakwah
menginginkan menyatukan umat .Seperti kisah
Al hasan saat berkhutbah wahai manusia aku tidak mampu memikul
kedengkian atas seoranh muslim .Yang kalian benci adalah lebih baik daripada
perselisihan yang kalian sukai .
Salah satu diantaranya adalah menceritakan pengalaman sesorang atau pribadi
yang terkait dengan topik. Ketika membicarakan pengalaman apalagi yang
menyangkut keteladanan, pendakwah harus berhati-hati.
Kisah- kisah teladan dapat kita ambil dari cerita
peristiwa terdahulu, seperti cerita tentang Khadijah Binti Khuwailid yang
merupakan istri Nabi Muhammad SAW yang sangat setia kepada Beliau. Khadijah
merupakan istri teladan, penolong utama Rasulullah SAW. Dia membela Rasulullah
SAW dengan jiwa dan hartanya. Dia pula yang pertama kali beriman dan membenarkan
dakwah Rasulullah SAW, dan ikut merasakan berat dan pedihnya tantangan dakwah
yang dialami oleh Rasulullah SAW.
7.
Berita dan Peristiwa
Pesan
dakwah bisa berupa berita tentang sesuatu kejadian. Peristiwanya lebih
ditonjolkan daripada pelakunya seperti uraian diatas. Berita (kalam khabar)
menurut istilah ‘ilmu al-balaghah dapat benar atau dusta. Berita dikata benar
jika sesuai dengan fakta.jika tidak sesuai, disebut berita bohong. Hanya berita
yang diyakini kebenarannya yang patut dijadikan pesan dakwah. Dalam al-qur’an,
berita sering di istilahkan dengan kata al-naba’,yakni berita yang
penting,terjadinya sudah pasti, dan membawa manfaat yang besar.
Dalam
menjadikan berita sebagai menunjang pesan dakwah, terdapat beberapa etika yang
harus diperhatikan :
a). Melakuakan berkali-kali
sampai diyakini kebenaran berita tersebut. dalam al-qur’an kita diperintahkan
untuk melakukan pengecekan informasi ( tabayun ) atau kesesuainya dengan fakta
( QS. Al-Hujarat ayat 6 ).
b). Dampak dari suatu
berita juga harus dikaji. Jika ada kemungkinan membahayakan bagi mitra dakwah,
berita itu tidak boleh diceritakan, meskipun benar-benar terjadi.
c). Sifat berita adalah
datar, hanya memberitahukan (to inform).
d). Berita yang di sajikan
harus mengandung hikmah.
8.
Karya Sastra
Pesan
dakwah terkadang perlu dilengkapi dengan karya sastra yang bermutu sehingga
lebih indah dan menarik, Bisa bemberi daya
memikat pada orang yang baru mengenal dakwah . karya sastra ini dapat
berupa syair, puisi, pantun, nasyid. Tidak sedikit para pendakwah yang
menyisipkan karya sastra daam dakwahnya. Hampir setiap karya sastra memuat
pesan-pesan bijak.berdakwah dengan paduan seni nusantara.
Seperti hadist yang berbunyi :
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ
حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ
قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ
عَازِبٍ يُحَدِّثُ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحْزَابِ وَخَنْدَقَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ يَنْقُلُ مِنْ تُرَابِ
الْخَنْدَقِ حَتَّى وَارَى عَنِّي الْغُبَارُ جِلْدَةَ بَطْنِهِ وَكَانَ كَثِيرَ
الشَّعَرِ فَسَمِعْتُهُ يَرْتَجِزُ بِكَلِمَاتِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَهُوَ يَنْقُلُ
مِنْ التُّرَابِ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا
تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ
الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا وَإِنْ
أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا قَالَ ثُمَّ يَمُدُّ صَوْتَهُ بِآخِرِهَا
Telah menceritakan kepadaku
Ahmad bin Utsman telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Maslamah dia
berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Yusuf dia berkata, telah
menceritakan kepadaku Ayahku dari Abu Ishaq dia berkata, aku mendengar Al
Barra` bin Azib bercerita, dia berkata, “Pada waktu perang Ahzab atau Khandaq,
aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tanah parit,
sehingga debu-debu itu menutupi kulit beliau dari (pandangan) ku, saat itu
beliau bersenandung dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu
Rawahah, sambil mengangkat tanah beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan
karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan
tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta
kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang
musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki
fitnah, maka kami menolaknya.’ Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan
suara diakhir baitnya.
9.
Karya Seni
Sebuah karya seni memiliki nilai keindahan yang
tinggi. Jika karya sastra menggunakan komunikasi verbal (diucapkan) maka karya
seni lebih banyak menutarakan melalui komunikasi nonverbal (diperlihatkan).
Husein Nasr, dalam soal hubungan anatra seni dan
agama, membagi seni dalam 3 bagian. Pertama, Seni suci, yakni seni yang
berhubungan langsung dengan praktik-praktik utama agama dan kehidupan
spiritual. Kedua, seni tradisional, yakni seni yang menggambarkan
prinsip-prinsip agama dan spiritual tetapi dengan cara tidak langsung. Ketiga,
seni religius, seni yang subjek atau fungsinya bertema keagamaan, namun bentuk
dan cara pelaksanaannya tidak bersifat tradisional.
Pesan dakwah
jenis ini lebih mengacu kepada lambang yang terbuka untuk dapat ditafsirkan
oleh siapapun, maka pesan dakwah ini bersifat Subjektif. Tidak semua orang atau
bahkan jarang sekali orang yang mencintai atau dapat mengapresiasi sebuah karya
seni. Bagi seorang pecinta karya seni, pesan dakwah jenis ini lebih dapat
membuatnya berfikir tentang Allah SWT dan makhluk-Nya, lebih dari hanya ketika
ia mendengarkan ceramah agama. Seorang tersebut dapat dengan mudah meresapi
hingga menteskan air mata ketika melihat sesuatu yang menurutnya merupakan kebesaran
Allah SWT, misalnya seperti sebuah lukisan pemandangan laut yang terhampar luas
dengan gelombang yang sangat dahsyat dan tampak dari kejauhan terlihat ada
seorang yang bersujud diatas perahu kecil yang terombang-ambing dahsyatnya
ombak lautan.
C. Tema-Tema Dakwah
Secara etimologi pengertian dakwah merupakan suatu proses
penyampaian (tabligh). Pesan-pesan tertentu berupa ajakan atau seruan dengan
tujuan orang lain memenuhi dan mengikuti ajakan tersebut. Tema ini paling tidak
akan tampak pada kemungkinan bahwa mitra dakwah sudah mulai berusaha
menimbang-nimbang pesan dakwah tersebut apakah mereka akan menerimanya atau
sebaliknya.
Bagi pendakwah harus tau tentang tema-tema pendakwah
sebelum berdakwah .Antara lain tema pesan
dakwah untuk memberikan ketenangan dalam beragama.Di tengah lautan masyarakat plura dan tema peningkatan
keagamaan di sumber daya manusia .Tidak hanya macam -macam tema dakwah . di
situ ada penjelasan tentang isi-isi tema dakwah .Antara lain tema yaitu
ketenangan dalam beragama ,bermayarakat hingga dapat di pahami dari pemahaman
dari ajaran agama islamnsecar integral atau menyeluruh .Sehinga dalam berdakwah
butuh tema supaya tidak terjebak pada distorsi ajaran agama yang bisa
memberikan dampak buruk dan memberikan ajaran agama yang kurang berkesan. Saat
kita membahas tentang jihad jangan dinyatakan jihad adalah peperangan karena
bisa berdampak buruk terhadap orang awam dan memberikan kesan yang beda dengan
ajaran islam .Dalam penolakan pesan dakwah hal ini memiliki banyak factor
antara lain bias jadi pesan dakwah tersebut tidak relevan atau bertentangan dengan apa yang di
fahami oleh pendengar .atau di sampaikan oleh pendakwah secara prontal hingga
cenderung propokatif .mak dari itu Seorang pendakwah harus pandai-pandai menghadapi
masalah dari masyarakat .Pendakwah juga harus mampu memberikan pemahaman yang dapat dengan mudah di terima yang pada
dasarnya pendakwah harus faham denggan isi dari kandungan ayat Al -Quran secara
ilmiyah dan Hadits .Kalau hanya hafalan Al -Quran dan Hadits maka pendakwah
cenderung memberikan penafsiran yang instan .Bahkan dakwahnya terasa melangit
dan kurang landing ke bumi.
D. Karakteristik Pesan Dakwah
Dalam pesan dakwah sudah di jelaskan bahwa
terdiri dari ajakan Rasulullah kepada
umatnya dengan dasar Al-Quran dan Hadtis .Sehingga membutuhkan bekal ilmu yg
lebih banyak seperti ilmu Tasawuf ,Ushul fiqih ,Tafsir hadtis .Metode pemahaman dari ilmu itu penting untuk
menjelskan pemahaman yang lebih rinci dari mulai dasar sampai tingkat tinggi .hingga
berdakwah memiliki ciri khas yang tersendiri .Memiliki kesan untuk menarik
perhatian para pendenggar dakwah . Al-Quran
dan Hadtis merupakan teks tulis .Memiliki sifat statis .Oleh karna itu
,pemahaman teks dapat berubah sesuai
denggan konteksnya. Kontek terbatas pada hukum,ruang dan waktu. Konteks masa silam dan masa akan mendatang.
BAB II
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dakwah
mempunyai unsur-unsur salah satunya yaitu pesan .Berdakwah ada banyak hal yang
perlu di perhatikan seperti memahami semua ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu secara ilmiah
. Sehinga saat memberi materi dakwah
sangat mudah di terima secara logika .Dan orang awam mampu melakukan
pekerjaan yang di sampaikan dalam majlis pendakwahan .Mampu memahami
teori-teori pendakwahan .Memberika tema
yang bisa memberikan kesan khas dalam berdakwah .Supaya saat berdakwah mampu
bersatu dengan jiwa –jiwa pendakwah dan penyampaian dakwah .
B.
SARAN
Penulis
berharap semoga makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca .
Penulis juga berharap kritik dan saran dari pembaca,khususnya dosen pengampumata
kuliah untuk kesempurnaan tugaspenulis selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA